Mia Clark

“hai, Alex.”

“Aku tidak pernah merekam diri sendiri, jadi terasa aneh”

“Tapi aku ingin melakuakan ini karena… karena ada yang ingin ku katakan padamu.”

“Maksudku, kalau kau sedang melihat ini, berarti sesuatu telah terjadi dan aku tidak bisa lagi mengatakannya kepadamu secara langsung.”

“maafkan aku karena menghindarimu selama ini. Kurasa aku hanya bersikap bodoh dan berharap segalanya akan lebih mudah kalau kita tidak bertemu. Lebih mudah bagimu, juga bagiku. Tapi aku salah.”

“Sebenarnya aku tidak ada maksud untuk menghindarimu. Aku hanya berusaha menghindari perasaan ku sendiri dengan menghindarimu.”

“Aku sangat ahli, menghindari perasaanku sendiri, kau tau? Bagiku suatu perasaan tidaklah nyata kalau aku menolak merasakannya. Perasaan itu tidaklah nyata kalau aku menolak mengakuinya.”

“Dan… aku menghindar karena aku takut pada perasaan yang kutimbulkan dalam diriku,”

“Aku merasa tidak berhak merasakan perasaan yang selalu membuatku bahagia tanpa alasan itu, yang selalu membuatku tersenyum setiap kali mengingatmu, yang selalu membuatku kembali berharap, kembali memikirkan ‘seandainya.'”

“Aku tidak berhak merasakan perasaan itu. Tidak sementara kondisiku masih seperti ini.”

“Tidak ada yang bisa kuberikan kepadamu saat ini. Tidak ada yang bisa ku tawarkan. Juga tidak ada yang bisa ku janjikan,’

“Karena itu ketika kau bertanya kepadaku tadi, aku tidak memberikan jawaban yang kau minta. Kau pantas mendapatkan semua yang terbaik di dunia ini, Alex. dan aku tidak bisa memberikannya kepadamu saat ini,”

“karena itu aku diam… tapi aku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu saat nanti… ketika akau mendapat jantung baru… ketika aku sehat kembali… ketika aku memiliki masa depan yang bisa ku serahkan kepadamu… aku akan berhenti menghindar. Saat itu aku akan berdiri tegak dihadapanmu dan memberikan jawaban yang pantas kauterima. Dan saat itu aku akan menyerahakan seluruh hidupku kepadamu.”

“Tapi kemudian aku mulai berfikir. Bagaimana kalau aku tidak mendapat jantung baru? Bagaimana kalau… bagaimana kalau pada akhirnya aku tidak mendapat kesempatan untuk berdiri lagi dihadapanmu dan mengatakan apa yang ingin ku katakan padamu?”

“Bagaimanapun setelah apa yang kaukatakan kepadaku, setelah kau menyatakan padaku, kupikir kau berhak mendapat jawaban. Walaupun mungkin aku tidak bisa memberikan jawabanku secara langsung kepadamu seperti yang kuharapkan. Karena itulah aku memutuskan merekam ini. Untuk berjaga – jaga.”

“Aku ingin kau tahu bahwa aku mensyukuri hari aku mengenalmu. Aku juga ingin berterima kasih atas semua yang sudah kau lakukan untukku. Terima kasih karena telah menemaniku selama ini. Terima kasih karena tetap bersabar denganku walaupun aku cenderung bersikap tidak masuk akal akhir – akhir ini. Aku tidak tahu kenapa kau bisa jatuh cinta pada orang sepertiku, tapi… terima kasih karena telah mencintaiku.”

“Satu – satunya penyesalanku dalam hidup adalah aku tidak bisa bersamamu sekarang dan mengatakan semua ini secara langsung kepadamu. Tapi tolonglah percaya padaku ketika kukatakan bahwa aku ingin selalu bersamamu. Percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku selalu ingin berada didekatmu. Dan percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku juga mencintaimu.”