JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah rutinitas jadwal kemoterapi dan kunjungan kerabat serta rekan kerja yang seolah tak pernah berhenti, para penderita kanker sering melupakan dua hal sederhana ini. Perasaan bahagia dan semangat untuk hidup.

Padahal, menurut Dr Aru Wisaksono Sudoyo dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI), perasaan bahagia dan semangat untuk hidup berpengaruh besar terhadap ketahanannya dalam menjalankan sisa hidup penderita.

“Mereka yang bersikap positif itu memang berpengaruh besar terhadap survival-nya karena dia memang akan selalu berusaha untuk hidup, mencari kegiatan sehingga dia jadi mau makan lebih banyak. Lalu kegiatan badannya menjadi lebih bagus,” tutur Aru seusai acara Patients Gathering II Indonesian Ostomy Association (InOA) dan YKI di Hotel Le Meridien, Sabtu (20/6).

Langkah utama yang menentukan adalah rasa penerimaan diri mereka. Para penderita harus mampu menerima kanker yang ada dalam tubuhnya sebagai bagian dari dirinya dan melakukan yang terbaik untuk mengalahkan itu.

Berdasarkan pengalamannya, Dr Aru mendapati bahwa penderita yang sejak awal sudah sulit menerima penyakitnya dan memiliki resistensi serta penyesalan menunjukkan efek samping kemoterapi yang lebih hebat.

Misalnya, muntah-muntah lebih hebat. Dr Lula Kamal juga membenarkan pendapat Dr Aru. Bagi dr Lula, pekerjaan yang paling melelahkan bagi dokter yang menghadapi penderita kanker sebenarnya adalah menggenjot semangat penderita.

“Karena ketika mereka sakit pasti down. Padahal, harusnya mereka bisa bersenang-senang, naik haji, beribadah dengan baik menikmati sisa waktu yang Tuhan berikan,” ujar Lula.

Di sini, keluarga juga memiliki peran yang besar dalam mentransfer perasaan bahagia dan semangat untuk hidup. Bukan menunjukkan rasa kasihan yang berlebihan.