Oleh : Fildza Asri Ghaliyati ( PLS UNJ NR”2010 )

Tujuan pendidikan menengah atas adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Departemen Pendidkan Nasional menjelaskan dalam visinya bahwa kecerdasan mencakup cerdas intelektual, cerdas emosional dan cerdas spiritual. Pasal 12 Undang-Undang Nomor 20 tentang Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional melindungi hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan potensi, minat dan kebutuhannya guna menunjang masa depannya.

Saat ini pendidikan bermutu dan bertaraf internasional dibutuhkan masyarakat untuk meningkatkan daya saing di tingkat internasional. Masyarakat yang umumnya memiliki minat tinggi terhadap sekolah negeri yang dianggap favorit banyak berharap agar mutu pendidikan meningkat lebih cepat dari kondisi real yang ada. Dengan keterbatasan sumber daya dan sarana permintaan dan dorongan untuk berharap sekolah negeri menjadi setara dengan mutu internasional mendorong pemerintah provinsi DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan tentang sekolah nasional plus/internasional pada tahun 2005. Saat itu SMA nasional plus/internasional diberi peluang untuk membuka layanan kelas internasional.

Layanan kelas internasional ( KI ) adalah layanan pendidikan dengan kelas khusus yang dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dengan menggunakan standar nasional dan standar internasional. Standar nasional yang digunakan mengacu pada standar nasional pendidikan, yaitu standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar pengelolaan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan, dan standar penilaian. Layanan kelas internasional bertujuan untuk memberikan layanan pendidikan bermutu tinggi yang diakui dunia internasional agar lulusannya memiliki kemampuan sesuai standar isi dan standar kompetensi lulusan (nasional), serta memiliki lisensi internasional melalui sertifikasi ujian internasional yang berafiliasi dengan University of Cambridge Internasional Examination. Peserta didik pada layanan kelas internasional berhak dan wajib mengikuti ujian internasional dari University of Cambridge Internasional Examination pada jenjang O Level (IGCSE) dan As Level, serta dapat megikuti ujian A Level sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

Kurikulum yang digunakan pada layanan kelas internasional adalah KTSP G 78 yang mengacu pada standar isi yang diperkaya dengan standar isi dari University of Cambridge Internasional Examination dengan cara mengadopsi dan mengadaptasi kedua standar isi. Kurikulum didesain sedemikian rupa dalam struktur mata pelajaran dan beban belajar dengan menggunakan sistem kredit semester (SKS). Beban belajar minimum kelas internasional adalah 126 satuan kredit semester (sks).

Menurut pengakuan salah satu murid KI dari SMA Negeri 78, mengatakan bahwa setiap murid akan ‘dibekali’ dengan beberapa fasilitas istimewa agar terlihat lebih “internasional” dari yang lain, contonya laptop. Menurut para siswa, fasilitas yang mereka dapat sekarang seharusnya seimbang dengan harga yang telah orangtua mereka bayarkan ke pihak sekolah yaitu sebesar ±100juta selama masa seolah. Selain itu buku standarnya berasal dari Singapura, penerbitnya longman. Jika melihat dari standar buku itu, semua buku-buku itu diselesaikan selama 4 tahun. Akan tetapi, berhubung pemerintah belum memberikan standar yang tepat dan jelas, maka sekolahnya pun menetapkan standar cukup gila. Mengapa? Pihak sekolah menutuskan bahwa buku-buku itu harus diselesaikan maksimal dalam 1,5 tahun. Hal tersebut mengimbulkan kontra diantara para orangtua murid. Untuk menjelaskan itu semu pihak sekolah menerangkan bahwa, dalam sistem internasional ada 2 level yang harus ditempuh. Yang pertama itu, O’ level (Ordinary Level).Di sini merupakan langkah awal untuk menuju level selanjutnya. Di tingkat selanjutnya ada A’ level (Advance Level). Di tingkat ini, merupakan tingkat tersulit dan terpanjang yang akan ditempuh. Maka dari itu agar semua target bisa dilalui maka siswa harus menyelesaikan buku – buku itu dalam kurun waktu 1,5 tiap level yang seharusnya ditempuh selama 4 tahun untuk menyelesaikan buku – buku itu.

Masalah yang terjadi yaitu sistem pembelajaran internasional ini terkesan seperti kelas akselerasi. Kelas akselerasi, memang ditujukan untuk pelajar yang ingin belajar dengan cepat dan ingin cepat lulus untuk menempuh jejang selanjutnya akan tetapi, kelas internasional itu tidak dapat disamakan dengan kelas aksel karena konsep yang diberikan pun berbeda. Bila hal ini terus berlangsung bukankah semuanya akan berakibat buruk kepada para siswa karena mereka terasa tertekan dan depresi menghadapi pembelajaran yang seperti itu.

Seharusnya pemerintah lebih tegas dalam mengambil kebijakan tentang konsep kelas internasonal di sekolah negeri yang ada di Indonesia agar tidak ada lagi kejanggalan yang terjadi dalam proses pembelajaran di kelas internasional ini.
( Fildza Asri Ghaliyati, Mahasiswi Univ. Negeri Jakarta )