Teori – teori perkembangan masyarakat

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah “Pembangunan Masyarakat” dibawah bimbingan

Drs. Ahmad Tijari, M. Pd

Di susun oleh:

Fildza Asri Ghaliyati            1515106202

Retno Astiningtyas              1515106199

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2012

KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Pembangunan Masyarakat Pendidikan Luar Sekolah dan untuk menambah ilmu pengetahuan lebih mendalam mengenai teori-teori yang ada di dalam perkembangan pembangunan masyarakat.

Ucapan terima kasih kami, selaku penyusun sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu baik moril maupun materil sehingga makalah ini dapat selesai pada waktunya.

Sebagaimana makalah pada umumnya, makalah ini juga memiliki kelemahan dan kekurangan. Untuk itu kami mohon maaf apabila di dalam makalah ini terdapat kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Karena itu penulis sangat menghargai dan menghormati pembaca apabila ada kritik dan juga saran. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat pendidikan pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya. Amin

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

        Jakarta, November  2012

Tim Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

 

Teori yaitu ungkapan mengenai hubungan kausal (sebab akibat) yang logis sehingga teori dapat digunakan sebagai kerangka berfikir (frame of thingking) dalam memahami serta menanggapi permasalahan yang timbul dalam bidang tertentu. Dalam teori keterbelakangan alamiah menyebutkan faktor–faktor “alamiah” dalam arti luas, yaitu baik keadaan lingkungan alam itu sendiri maupun gejala–gejala yang hanya ditafsirkan sebagai “alamiah”. Teori – teori rasisme mengajukan tesis bahwa keterbelakangan adalah akibat dari kelemahan biologis – intelektual ataupun moral bangsa – bangsa terbelakang. Ideologi ini dipakai untuk membenarkan perbudakan dan bahkan pemusnahan etnis minoritas.

Secara garis besar dibahas dalam teori ekonomi geografis, dikatakan bahwa teori – teori kependudukan menekankan bahwa pertambahan penduduk setidaknya akan sedikit mengurangi pembangunan ekonomi. Kemudian dalam teori ekonomi pembangunan selalu mempunyai dampak yang paling besar, baik atas kebijakan negara-negara berkembang maupun atas nasihat-nasihat dan bantuan pembangunan negara-negara industri. Pengandaian nilai dibelakang semua teori itu, yang tidak selalu diuraikan adalah prioritas pertumbuhan ekonomi. Sedangkan dalam teori  pembangunan ekonomi perdagangan, menunjuk pada argumentasi klasik dalam teori perdagangan bebas. Menurut teori itu, semua negara akan beruntung, sekalipun untungnya tidak sama besar, jika mereka dalam rangka pembagian kerja internasional mengandalkan faktor produksi yang relatif murah ikut serta dalam pertukaran barang dan jasa secara bebas. Beberapa ahli ekonomi bahkan berpendapat bahwa integrasi sebanyak mungkin ke dalam ekonomi dunia adalah jalan terbaik untuk menghasilakn pertumbuhan yang setinggi mungkin. Dan untuk pembahasan kali ini akan diulas secara jelas mengenai teori-teori perkembangan masyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.  Teori Perkembangan Masyarakat

Teori yaitu ungkapan mengenai hubungan kausal (sebab akibat) yang logis diantara berbagai gejala / perubahan (variable) dalam bidang tertentu, sehingga teori dapat digunakan sebagai kerangka berfikir (frame of thingking) dalam memahami serta menanggapi permasalahan yang timbul dalam bidang tertentu. Teori – teori perkembangan masyarakat antara lain :

  1. 1.    Teori Keterbelakangan “Alamiah”

 

  1. Usaha – usaha pertama untuk menerangkan secara teoritis keterbelakangan daerah jajahan yang sudah ada di zaman colonial hampir selalu bertujuan untuk membenarkan penjajahan, juga dari sudut moral. Teori – teori ini hampir tanpa pengecualian mengacu pada factor – factor “alamiah” dalam arti luas sekali, yaitu baik keadaan lingkungan alam itu sendiri maupun gejala – gejala yang hanya ditafsirkan sebagai “alamiah”.
  2. Teori – teori rasisme mengajukan tesis bahwa keterbelakangan adalah akibat dari kelemahan biologis – intelektual ataupun moral bangsa – bangsa terbelakang. Ideologi ini dipakai untuk membenarkan perbudakan dan bahkan pemusnahan etnis minoritas.
  3. Pada abad ke-19, mulai berkembang etnologi yang menyelidiki kebudayaan dan tata susunan social masyarakat – masyarakat tradisional yang disebut “bangsa – bangsa primitive”, bangsa dengan gaya hidup yang masih asli. Ilmu baru itu sering membiarkan diri menjadi alat dalam tangan para penjajah, apalagi karena teori – teori etnologis tertentu tidak jauh berbeda dengan teori – teori rasisme.
  4. Teori – teori iklim memandang baik pembangunan maupun keterbelakangan sebagai proses ( historis ) atau “jawaban – jawaban atas tantangan – tantangan” terhadap lingkungan alamiah, terutama factor – factor iklim.

  1. 2.    Teori Ekonomi – Demografis

 

  1. Factor yang memainkan peranan penting tetapi dibahas secara controversial dalam teori perkembangan masyarakat adalah pertambahan jumlah penduduk. Latar belakangnya adalah teori klasik dari Thomas Malthus pada tahun 1798. Tesis pokoknya adalah pertambahan penduduk ( secara geometris ) dalam jangka waktu panjang hampir pasti akan menyebabkan kelaparan besar karena pertambahan produksi pangan  jauh kurang cepat. Jalan keuarnya hanya ada dua, yaitu koreksi – koreksi “alamiah” ( checks ), seperti perang dan wabah yang akan menyelaraskan kembali pertambahan penduduk dengan persediaan pangan, dan koreksi – koreksi “preventif”.
  2. Teori – teori kependudukan yang optimistis menekankan bahwa pertambahan penduduk setidaknya akan sedikit mengurangi pembangunan ekonomi. Sebagai bukti, mereka menyebut fakta empiris bahwa pertambahan kemakmuran untuk jangka waktu yang lebih panjang selalu berakibat turunnya angka kelahiran sehingga timbullah keselarasan kependudukan yang baru ( efek taraf hidup ), apalagi jika prose situ disertai dengan kebijakan keluarga berencana dan kemajuan teknologi. Penganut lain teori itu bahkan memandang pertambahan pcnduduk sebagai rangsangan untuk memperbaiki teknik produksi sebagai syarat untuk pembangunan ekonomi. Menurut mereka. sumber sejati segala kemajuan adalah manusia itu sendiri. Jadi, lebih banyak manusia berarti lebih banyak pula pikiran, daya cipta dan inovasi. Maka dari itu, sama sekali tidak ada alasan untuk keprihatinan, malah sebaliknya, masa depan bisa dihadapi dengan penuh optimis.

  1. 3.    Teori Modernisasi Ilmu Sosiologi

 

a)    Teori – teori modernisasi dalam beraneka ragam bentuk dan aliran sampai sekarang masih memainkan peran penting. Apa yang menghubungkan semua teori itu adalah paradigma “pembangunan yang mengejar kemajuan” terhadap negara industri sebagai cita – cita normatif yang pokok. Dengan demikian, pembangunan berarti bahwa masyarakat – masyarakat tradisional harus mengejar kemajuan mereka dibandingkan dengan masyarakat modern.

b)    Dalam kerangka paradigma itu ada perbedaan – perbedaan teoretis yang cukup besar jika proses modernisasi itu dilukiskan dan ditafsirkan. Bagi sosiologi pembangunan yang mengikuti tradisi Max Weber, rasionalitas dan sekularisasi di segala bidang hidup, mulai dari pola tingkah laku sampai tata ekonomi dan negara, merupakan ciri khas modernisasi dan dengan demikian menjadi syarat mutlak untuk perkembangan masyarakat.

  1. 4.    Teori Modernisasi Ilmu Psikologi Sosial

            Beberapa teori penting tentang modernisasi menerangkan keterbelakangan. Pertama-tama dengan pendekatan teori tingkah laku sebagai mentalitas tradisional yang berakar dalam lingkungan sosio-budaya tradisional. Semua keterangan itu, dalam arti tertentu, berpangkal pada teori sosiologi agama dari Max Weber, terutama dalam bukunya yang termasyur, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme ( 1905 ). Weber menulis tentang munculnya semangat ekonomi kapitalis, yaitu “Salah satu unsur konstitutif semangat kapitalisme modern, dan bukan saja itu, melainkan dari seluruh budaya modern, adalah cara hidup yang rasional berdasarkan konsep profesi yang dilahirkan oleh semangat.” ( Weber, 1988 )

            Bagi Weber, kapitalisme tumbuh dari dalam dunia agama Kristen aliran Calvinisme. Berpangkal pada tesis itu, Weber mengadakan studi-studi sosiologi agama yang sangat luas dan akhirnya sampai pada kesimpulan yang cukup negatif untuk kemingkinan perkembangan serupa dalam budaya-budaya lain yang ditentukan oleh agama-agama lain. Dengan demikian, sama sekali tidak mengherankan jika tesis itu menimbulkan kecaman di negara-negara Dunia Ketiga yang lantas banyak melahirkan tulisan yang mencoba membuktikan bahwa Islam, misalnya juga bisa melahirkan Kapitalisme Modern ( Rodinson, 1966 ) namun saat ini seiring dengan berjalannya waktu, faktor tersebut membawa perkembangan masyarakat.

            Teori-teori modernisasi yang lebih baru pun menekankan pentingnya motivasi berprestasi, tetapi Weber sendiri yang memakai dalil-dalil psikologis. David McCelland, contohnya, dalam banyak studi empiris mencoba membuktikan hubungan erat antara keinginan berprestasi individual, perubahan sosial yang berakar dalam sikap itu, dan pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Faktor yang paling menentukan, menurut David McCelland, adalah sikap ingin berprestasi. Pertama-tama bukan karena membawa serta gengsi sosial, melainkan karena menciptakan kepuasan batin.

            Ada teori-teori perubahan sosial lain yang menafsirkan kehendak berprestasi sebagai reaksi atau atas frustasi sosial. Frustasi itu memajukan perubahan nilai-nilai, daya cipta, dan inovasi. Oleh sebab itu, aka nada orang atau sekelompok bersemangat berwiraswata yang mampu memanfaatkan peluang-peluang dan mengatasi kesulitan-kesulitan. Sebagai buktinya adalah peranan ekonomi yang sangat berhasi dari kelompok minoritas ( pada umumnya etnik ) Contohnya, orang keturunan China di Asia Tenggara. Keadaan minoritas mendorong mereka untuk membuktikan diri dan mendapat penghormatan sosial ( suatu dorongan kuat untuk berprestasi tinggi yang bisa dipenuhi dengan kegiatan inovatif ) namun dalam pasar keuangan yang sementara masih kurang dimanfaatkan, contohnya dengan meminjamkan kredit.

            Ada juga teori yang membicarakan modernisasi ilmu psikologi sosial, yaitu yang diajukan oleh Daniel Lerner berdasarkan penelitian tentang masyarakat-masyarakat di Timur Tengah, sampai pada kesimpulan bahwa penyebarluasan empati sebagai ciri khas kepribadian merupakan unsur yang paling penting untuk peralihan ke masyarakat modern dan partisipatif yang merupakan syarat mutlak bagi perkembangan soaial dan pembangunan ekonomi. Lerner memahami empati sebagai mobilitas mental, yakni kemampuan untuk menyelami dengan pikran dan keadaan-keadaan yang belum dikenal. Ada sejumlah perubahan struktural yang saling berkaitan, yaitu “modernisasi cara hidup”, adalah proses urbanisasi yang meningkatkan presentase orang mengenal huruf dan dengan demikian rasionalitas dan media massa yang memperluas komunikasi, pada masanya meningkatkan mobilitas sosial dan partisipasi politik penduduk.

            Akhirnya, teori inovasi yang berpangkal pada Joseph Schumpeter yang mana dewasa ini menjadi aktual. Menurut Schumpeter, apa yang paling menggerakan kemajuan ekonomi adalah kegiatan kreatif dan dinamis para wiraswasta, yang denagan semangat inisiatif dan kerelaan menanggung risiko meggunakan kesempatan-kesempatan yang terbuka serta memakai modal mereka untuk membuat beraneka ragam inovasi. Dengan meneruskan pendekatan itu, Jochen Ropke ( 1980 juga 1979 ) menyebutkan 3 syarat tingkah laku inovatif yang juga dalam konteks negara berkembang mutlak perlu, yaitu :

1)    Kelonggaran institusional secukupnya, yaitu cukup banyak kebebasan ekonomi juga sosio-budaya.

2)    Calon-calon wiraswasta harus memiliki kemampuan kognitif dan emosional serta kompetensi yang memadai

3)    Risiko yang mereka tanggung harus menantang dan tidak boleh melumpuhkan mereka.

  1. 5.    Teori Ekonomi Pembangunan

Peranan yang sangat menentukan sampai sekarang ini dimainkan oleh teori-teori   pembangunan ekonomi karena selalu mempunyai dampak yang paling besar, baik atas kebijakan negara-negara berkembang maupun atas nasihat-nasihat dan bantuan pembangunan negara-negara industri. Pengandaian nilai dibelakang semua teori itu, yang tidak selalu diuraikan adalah prioritas pertumbuhan ekonomi.

Para penganut strategi pertumbuhan yang berat sebelah menganjurkan pemusatan segala investasi pada beberapa sektor terpilih saja, mengingat kekurangan modal dan wiraswasta di negara-negara berkembang. Menurut mereka, strategi ini akan menimbulkan efek-efek hubungan timbal balik, di satu sisi sebagai permintaan para investor akan bahan-bahan mentah dan baku serta input-input lain, juga sebagai permintaan para pembeli yang menciptakan peluang pasar yang baru.

  1. 6.    Teori-teori Pembangunan Ekonomi Perdagangan

Tema yang penting tetapi juga sedikit kontroversial dalam diskusi teoritis adalah sejauh mana hubungan ekonom dengan luar negeri bisa mendukung proses pembangunan, dan sejauh mana negara berkembang sebaiknya mengintegrasikan diri ke dalam ekonomi dunia. Orang yang mendukung integrasi itu menunjuk pada argumentasi klasik dalam teori perdagangan bebas. Menurut teori itu, semua negara akan beruntung, sekalipun untungnya tidak sama besar, jika mereka dalam rangka pembagian kerja internasional mengandalkan faktor produksi yang relatif murah ikut serta dalam pertukaran barang dan jasa secara bebas. Beberapa ahli ekonomi bahkan berpendapat bahwa integrasi sebanyak mungkin ke dalam ekonomi dunia adalah jalan terbaik untuk menghasilakn pertumbuhan yang setinggi mungkin.

Semula, pembagian kerja menurut kelebihan biaya produksi, baik relatif maupun mutlak, menjadi pusat perhatian. Namun sesuai dengan persediaan relative faktor-faktor produksi, seperti sumber daya alam, modal manusia, dan teknologi. Diusulkan kepada negara berkembang agar pada permulaan memusatkan diri pada ekspor bahan-bahan mentah, dan hasil-hasil produksi pertanian. Teori siklus produksi memodifikasikan agar menghasilkan produk-produk konsumsi massa yang proses produksinya sudah baku karena produksi itu cukup murah karena teknologi yang mudah difunsikan. Sebaliknya, negara industri hendaknya semakin membatasi diri pada barang-barang yang modal banyak, teknologi, inovasi, dan keahlian.

Kesimpulan dari teori perdagangan bebas adalah strategi mendorong ekspor. Namun terbatas ada harapan tinggi bahwa strategi itu akan berhasil karena struktur, baik permintaan maupun penawaran baranag-barang itu kurang menguntungkan. Artinya, harga-harga sangat tidak stabil dan secara mendadak bisa turun dengan tajam. Maka dari itu, perlu diusahakan perluasan horizontal ekspor (dominan ke banyak negara) serta diversifikasi barang-barang yang diekspor. Namun usaha itu juga menghadapi halangan besar, contohnya, proteksionisme.

BAB III

KESIMPULAN

 

Bisa diambil kesimpulan bahwa teori-teori yang ada di dalam pembahasan ini  mengenai bagaimana perkembangan masyarakat, bahwasannya sesuai dengan apa yang dikondisikan. Teori Keterbelakangan “Alamiah” menyebutkan bahwa Usaha – usaha pertama untuk menerangkan secara teoritis keterbelakangan daerah jajahan yang sudah ada di zaman kolonial hampir selalu bertujuan untuk membenarkan penjajahan, juga dari sudut moral. Teori – teori itu hampir tanpa pengecualian mengacu pada faktor–faktor “alamiah” dalam arti luas, yaitu baik keadaan lingkungan alam itu sendiri maupun gejala–gejala yang hanya ditafsirkan sebagai “alamiah”. Dalam teori ekonomi geografis disebutkan bahwa teori – teori kependudukan yang optimistis menekankan bahwa pertambahan penduduk setidaknya akan sedikit mengurangi pembangunan ekonomi.

Sebagai bukti, mereka menyebut fakta empiris bahwa pertambahan kemakmuran untuk jangka waktu yang lebih panjang selalu berakibat turunnya angka kelahiran sehingga timbullah keselarasan kependudukan yang baru ( efek taraf hidup ), apalagi jika proses itu disertai dengan kebijakan keluarga berencana dan kemajuan teknologi. Dengan demikian dari teori-teori yang sudah dikupas dan dibahas oleh kelompok presentasi, diketahui bagaimana serta teori-teori apa saja yang ada di dalam perkembangan masyarakat. Diharapkan pula para pembaca dalam memahaminya.